Rapatkan Barisan, Arus Bawah Dorong Sri Lestari Gantikan Nusyirwan Jadi Wawali

Sri Lestari Nusyirwan

SAMARINDA. MEDIAKALTIM.CO – Tidak hanya nama kader Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bermunculan sebagai figur yang digadang-gadang bakal menggantikan Nusyirwan Ismail sebagai Wakil Walikota (Wawali) Samarinda. Nusyirwan sendiri diketahui meninggal dunia 27/2/2018 lalu. Karena masa jabatannya masih di atas 18 bulan, sehingga secara otomatis harus digantikan.
Belakangan muncul nama istri Almarhum Nusyirwan Ismail, Sri Lestari yang didorong arus bawah untuk menggantikan posisi suaminya. Massa yang merupakan kumpulan para kader loyal dan simpatisan Nusyirwan itu bahkan sempat beberapa kali menggelar pertemuan.
“Intinya, ini karena dorongan arus bawah yang selama ini merupakan para relawan dan pendukung setianya Almarhum (Nusyirwan Ismail, Red). Kita ingin supaya semangat kepemimpinan Almarhum ini bisa diteruskan istrinya (Sri Lestari, Red),” ujar Roni, salah satu relawan kepada media ini usai rapat internal, Senin (5/3/2018) sore.
Dalam beberapa hari kedepan lanjut dia, beberapa utusan tim mereka akan menghadap Sri Lestari. Intinya mereka meminta agar istri almarhum mau dan bersedia untuk maju demi menyelamatkan aspirasi warga yang selama ini telah memberikan hak suaranya untuk Almarhum. Memang keputusan untuk usulan nama, menjadi domain kewenangan partai pengusung dalam hal ini Partai Nasdem, PKS, dan Partai Demokrat. Namun yang paling penting menurut mereka adalah terlebih dahulu meminta kesediaan yang bersangkutan.
“Semoga nanti ibu (Sri Lestari, Red) bersedia. Karena ini merupakan aspirasi warga dari arus bawah,” harapnya.
Sekedar diketahui, sesuai aturan ada dua proses pergantian calon wakil kepala daerah yang berhalangan tetap, ada dua proses. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 pasal 78 ayat (1), menyebutkan bahwa pemberhentian kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah, dapat dilakukan dengan tiga kondisi, yakni meninggal dunia, permintaan sendiri, dan diberhentikan.
Dalam hal ini, almarhum Nursyirwan Ismail yang dinyatakan meninggal dunia, maka pemberhentiannya sebagai Wawali Samarinda, terlebih dahulu harus diumumkan oleh pimpinan DPRD dalam rapat paripurna.
Calon pengganti diusulkan oleh pimpinan DPRD kepada menteri melalui gubernur sebagai wakil pemerintah pusat, untuk mendapatkan penetapan pemberhentian. Jika tidak diusulkan oleh pimpinan DPRD, maka pemberhentian dapat dilakukan oleh menteri atas usul gubernur.
Sedangkan ketentuan mengenai proses pergantian sebagai Wawali Samarinda, diatur tersendiri di dalam UU Nomor 10 Tahun 2016. Pasal 176 ayat (1) dalam UU tersebut. (red/mediakaltim.co)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *