Banjir; Antara Bencana, Fans Buta, dan Dagangan Politik

Oleh: Herman YB Tukan, S.Sos, M.Si
Oleh: Herman YB Tukan, S.Sos, M.Si

KOTA Samarinda dan Kaltim umumnya terus diguyur hujan deras selama beberapa pekan belakangan. Banjir hampir terjadi di mana-mana. Termasuk di Kota Samarinda yang selama ini memang dikenal rawan. Ya, secara topografi harus diakui jika Samarinda yang terbelah Sungai Mahakam itu memang merupakan dataran rendah sehingga paling rawan digenangi banjir. Belum lagi ditambah dengan pengembangan wilayah berupa pembangunan infrastruktur sehingga berimbas langsung pada kondisi alam. Tapi kali ini saya tidak mau bahas lebih jauh soal banjir ataupun penyebabnya. Maklum, saya bukan ahli alam ataupun yang mengerti lebih dalam secara teknis. Saya hanya ingin mengulas masalah sikap sebagian besar warga yang belakangan kian sering membahas mengenai persolaan banjir, khususnya di Kota Samarinda. Apa memang benar karena mungkin kondisinya lebih parah dari sebelum-sebelumnya? Tapi kenapa justru hanya Samarinda yang paling sering dibahas? Atau mungkin karena jadi ibukota provinsi sehingga paling mudah diteropong banyak pasang mata? Mudah-mudahan saja ini murni menandakan sebuah kemajuan pola pikir warga. Jika tidak, hanya akan menguntungkan pihak tertentu dengan menjadikannya sebagai dagangan politik. Kenapa bisa demikian ? Karena di depan mata, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, kita akan menghadapi momen pesta demokrasi berupa Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubenrur Kaltim. Ingat kasus Jakarta? Hemat saya, penistaan tidak hanya berlaku untuk hal-hal yang sifatnya sektarian. Bisa juga untuk individu ataupun figur tertentu yang sebenarnya sudah banyak berbuat maksimal untuk daerah ini namun tetap saja tidak dihargai, bahkan terus disuduti.
Tidak bermaksud melakukan pembelaan, namun pada kenyataannya selama ini Samarinda memang rawan banjir bila diguyur hujan deras. Di sisi lain, pemerintahan lokal juga tidak hanya duduk diam. Upaya pengendalian banjir di kota ini terus dilakukan Pemkot Samarinda. Bahkan ada pula program pengendalian seperti penurapan bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) yang bersinergi dengan Pemprov Kaltim. Di sisi lain, ada juga upaya relokasi warga SKM, pembenahan dan perawatan sistem drainase dalam kota, maksimalisasi tim hantu banyu, pembangunan polder, dan masih banyak lagi upaya lainnya dengan menyesuaikannya pada kekuatan APBD setiap tahun. Bagaimana dengan pengendalian banjir di daerah lain selain Samarinda? Mudah-mudahan anda sama dengan saya; sama-sama tidak tahu.
Satu hal yang paling membuat saya heran dan terus mengganggu pikiran. Persoalan banjir ini sudah lama, tapi kok baru sekarang lebih sering dibahas? Tidak hanya di dunia nyata. Di dunia maya justru lebih “beringas” postingannya. Saya sendiri tidak ingin menjadi fans buta yang ikut-ikutan melakukan posting banjir. Ataupun sebaliknya secara buta pula melakukan pembelaan terhadap persoalan banjir dengan menganggapnya sebagai murni karena kondisi alam.
Ya, terlepas dari plus minusnya buah pembangunan, tetap harus dihargai upaya maksimal pembenahan yang sudah dilakukan selama ini. Suatu langkah atau tindakan nyata di lapangan jauh lebih berarti daripada sekedar menggerutu. Bahkan ide cemerlang sekalipun tanpa aplikasi nyata di lapangan, akan menjadi sia-sia belaka. Sebagai warga yang baik, sudah kah saya dan anda memberikan yang terbaik untuk daerah ini dengan tindakan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak ikut melakukan penyumbatan aliran drainase, serta rajin terlibat dalam setiap kerja bakti? Satu langkah nyata kerja bakti mingguan yang digalang Pemkot Samarinda dengan mengajak warga untuk terlibat memang harus dihargai. Meski di sisi lain, semua persoalan memang dipengaruhi oleh sistem, termasuk sistem kebijakan. Namun dengan kondisi sekarang, apa langkah riil yang sudah anda dan saya lakukan dengan banjir sambil menunggu realisasi kebijakan sistematis terkait pengendalian banjir? Atau mau menyuruh siapa untuk menguras ataupun menimba air banjir agar bisa langsung kering dalam waktu sekejap saat hujan deras? Saya ataupun anda tidak mungkin mau melakukan pekerjaan gila itu. Yang pasti, tulisan ini murni hanya mengingatkan kita semua bahwa di saat ada pihak yang merasa dikecewakan akibat kerja seriusnya tidak dihargai, di sisi lain ada pula pihak yang bertepuk tangan dengan persoalan banjir yang terus-terusan dibahas. Semoga anda dan saya tidak menjadi agen yang dimanfaatkan pihak tertentu untuk meraih kepentingan tertentu. Salam… (herman@mediakaltim.co)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *